← Kembali

Lingkungan

Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan?

The Conversation Indonesia · 19 Oktober 2026 pukul 08.28

Hujan deras saja tak cukup memadamkan karhutla: Apa lagi yang diperlukan?

• Air hujan mungkin dapat membersihkan asap, tapi belum tentu memadamkan api.

• Lahan gambut akan sulit dipadamkan jika intensitas hujan amat ringan.

• Perlu hujan deras yang lama bahkan anomali La Nina untuk memastikan kebakaran berakhir.

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, masyarakat berharap hujan segera turun. Hujan diharapkan mampu memadamkan api, membersihkan udara dari kabut asap, serta mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan asap.

Tetesan air hujan memang menangkap sebagian partikel 2,5 mikron (PM 2,5 yang tujuh kali lebih tipis dari rambut manusia) dari asap lalu membawanya ke permukaan Bumi melalui proses wet deposition atau deposisi basah . Deras atau tidaknya hujan bisa menentukan seberapa bersih langit dari asap.

Namun, berkurangnya konsentrasi asap tidak berarti sumber kebakaran telah padam. Jika pembakaran masih berlangsung, partikel asap dapat kembali memenuhi atmosfer setelah hujan berhenti.

Pertanyaannya, seberapa deras dan seberapa lama hujan diperlukan agar kebakaran benar-benar padam? Dan kapan hujan diperkirakan turun di wilayah yang sedang menghadapi karhutla?

Karhutla telah menghanguskan 677 ribu hektare hutan dan lahan selama Januari - Agustus 2026. Nyaris separuh di antaranya terjadi pada bulan kedelapan.

Di Riau, luas kebakaran bahkan mencapai sekitar 20 ribu hektare hingga pertengahan September.

Memasuki Oktober 2026, ancaman api belum berakhir. Kementerian Kehutanan masih mendeteksi 1.359 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional per 5 Oktober, termasuk 569 titik di Kalimantan Tengah .

Titik panas berkepercayaan tinggi merupakan anomali suhu yang terdeteksi satelit dengan tingkat keyakinan tinggi sebagai sumber panas, meskipun belum tentu semuanya merupakan kebakaran.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 234 titik panas berkepercayaan tinggi di Sumatera Selatan pada 11 Oktober.

Hujan yang turun dalam waktu singkat di Sumatra maupun Kalimantan belum mampu mengatasinya. Api dapat terus membara di bawah permukaan tanah meskipun lapisan atasnya telah basah oleh air hujan.

Di tanah mineral, kebakaran umumnya menghanguskan vegetasi, serasah (lapisan bahan organik di permukaan tanah berasal dari daun, ranting, dan bagian tumbuhan mati yang belum terurai sempurna) dan bahan organik permukaan. Hujan membantu menurunkan suhu dan membasahi bahan bakar sehingga penyebaran api terhambat.

Sebaliknya, tanah gambut Indonesia terbentuk dari tumpukan bahan organik selama ribuan tahun yang ketebalannya dapat melebihi 10 meter. Ketika mengalami pengeringan berkepanjangan, lapisan gambut menjadi rentan terbakar, bahkan hingga ke lapisan bawah.

Ketika terbakar, gambut mengalami smouldering combustion , yakni pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas. Inilah mengapa air hujan yang membasahi permukaan belum tentu mencapai lapisan yang sedang terbakar.

Sebuah eksperimen laboratorium menguji kemampuan hujan buatan memadamkan kebakaran gambut hingga kedalaman 15 sentimeter. Hasil riset tersebut menunjukkan, intensitas hujan sekitar 4 milimeter per jam merupakan ambang minimum yang diperlukan untuk memadamkan api pada eksperimen tersebut.

Berdasarkan model empiris riset, hujan berintensitas 5 milimeter per jam diperkirakan membutuhkan sekitar lima jam untuk memadamkan api. Sementara saat hujan berintensitas 10 milimeter per jam, waktu pemadaman berkurang menjadi sekitar 2 – 2,5 jam.

Hujan yang lebih deras mungkin mempercepat pemadaman. Namun, angka tersebut bukan ambang universal. Kedalaman kebakaran, kadar air gambut, dan karakteristik tanah di lapangan—berdasarkan penelitian di Rokan Hilir, Riau —menentukan seberapa ampuh air mematikan bara api.

Dalam eksperimen tersebut, tiga kejadian hujan dengan intensitas 5,6; 1,4; dan 8,3 milimeter per jam menghasilkan total curah hujan masing-masing 4,8; 1,4; dan 2,5 milimeter.

Nyatanya, ketiga kejadian hujan tersebut tidak berhasil memadamkan pembakaran gambut.

Hasil ini menunjukkan bahwa intensitas hujan saja tidak cukup. Durasi hujan dan jumlah air yang mencapai lapisan terbakar juga menentukan keberhasilan pemadaman.

Menurut perkiraan BMKG , peluang hujan masih ada pada paruh kedua Oktober 2026, tapi distribusinya tidak merata. Intensitasnya pun diperkirakan masih ringan sehingga akan sulit memadamkan api di bawah permukaan tanah terutama gambut dalam.

Dalam perkiraan jangka pendek, 16 – 19 Oktober, BMKG mengindikasikan potensi hujan sedang di sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Untuk periode 21 – 31 Oktober, sebagian besar Riau dan Kalimantan Barat diprediksi menerima curah hujan sekitar 50 – 150 milimeter. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera Selatan dan Jambi diperkirakan hanya menerima 0 – 50 milimeter selama periode yang sama.

Di Kalimantan Tengah, beberapa kabupaten diprediksi memperoleh hujan 50–150 milimeter . Kalimantan Selatan masih menghadapi potensi kondisi kering di sebagian wilayah, sementara di Kalimantan Timur peluang hujan juga bervariasi antarwilayah.

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada November–Desember 2026. Awal musim hujan diperkirakan lebih lambat dibandingkan kondisi normal di sekitar 61% luas daratan Indonesia.

Keterlambatan musim hujan ini dapat memperpanjang durasi kebakaran, terutama di area gambut.

Pada gambut yang telah mengalami pengeringan berat, hujan singkat belum tentu mampu membasahi lapisan tanah yang terbakar hingga kedalaman tertentu. Kebakaran gambut bahkan tetap berlangsung meskipun terjadi tiga kali hujan, dengan kedalaman pembakaran rata-rata mencapai 25 sentimeter.

Api yang masih membara di bawah permukaan dapat terus menghasilkan asap setelah hujan berhenti.

Oleh karena itu, pemadaman perlu memastikan air mencapai lapisan gambut yang terbakar, bukan sekadar membasahi permukaan. Caranya, petugas menyemprotkan air secara berulang atau menggunakan pipa khusus yang ditancapkan ke dalam gambut untuk mengalirkan air langsung ke lapisan yang masih membara, kemudian memeriksa kembali apakah panas dan asap telah hilang.

Pengendalian muka air tanah dan pembasahan kembali gambut juga penting untuk mencegah kebakaran berulang.

Selain itu, pemantauan titik panas perlu dilengkapi pemeriksaan kondisi kebakaran di lapangan karena pembakaran gambut tidak selalu terlihat dari permukaan.

Hujan memang membawa harapan bagi masyarakat yang menghadapi karhutla dan kabut asap. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan singkat belum tentu cukup untuk menghentikan gambut yang terbakar.

Langit yang kembali cerah setelah hujan bukan jaminan bahwa api di bawah tanah telah padam.

Ringkasan lengkap

Kebakaran di lahan gambut rusak yang cukup dalam—hingga 10 meter ke bawah—akan susah padam jika intensitas hujan seperti saat ini.